Waktu itu sedang hari libur selama 3 hari kalau tidak salah. Saya dan teman teman sebelumnya merencanakan esok hari akan pergi ke Bukit Sunda yang ada di daerah Cisaat Sukabumi. Saat perencanaan ada kurang lebih 10 orang, tetapi diluar perkiraan pada keesokannya yg ikut hanya ber-4.
Saya, 3 teman saya yg bernama Habibie, Rama, dan Rivaldy.
Kami semua berkumpul di Jalan Hj.Juanda atau anak muda sekarang menyebutnya dagonya sukabumi karena banyak tempat nongkrong dan jajan-jajan anak muda. Kami memutuskan untuk tidak jadi pergi ke Bukit Sunda dan akhirnya dengan ada sedikit kebingungan akan pergi kemana akhirnya kami memutuskan pergi ke Curug Cibereum. Habibie teman saya yg membawa motor mencoba untuk mencari pasokan agar menambah jumlah orang. Bukan teman lain yg ada untuk diajak ikut alhasil hanya kedapatan ban agak sedikit kempes dan bensin menipis. Akhirnya saya dan teman saya Rivaldy mau tidak mau harus menunggunya menambal ban.
Akhirnya kami pun berangkat dari pusat kota Sukabumi menggunakan angkot merah bernomor trayek 10 jurusan Selabintana - Siliwangi. Dengan Habibie mengikuti dari belakang menggunakan motor sambil menanyakan rute perjalanan. Kami tiba di pintu gerbang Taman Rekreasi Selabintana, tapi bkn itu tujuan kami. Dari gerbang kami belok kanan lurus lalu belok kiri ke pedesaan warga untuk sampai ke PH atau Pondok Halimun. Kebanyakan orang lebih memilih mencarter angkot atau lewat jalan lain untuk sampai ke PH. Tapi kami memilih untuk sesekali melewati jalan ini.
Setelah itu ada pertigaan jalan ke Cakrawala (kiri) ke PH (lurus tengah) dan jalan pulang dari PH (kanan menanjak). Kami diharuskan membayar oleh akang-akang warga sekitar yg menurut saya itu pungutan biaya yg tidak resmi, akang-akang nya sedikit berpakaian preman. Yasudah daripada menambah masalah kami pun membayar Rp. 10.000 berempat. Kamipun melanjutkan perjalanan sampai ke PH, dengan pemandangan lembah yg indah dari kejauhan. Kami sempat bingung dengan jalan yg tertutup area perkebunan. Kamipun sempat menanyakan pada nenek-nenek warga sekitar yg katanya jalan saja lurus terus kalau mau ke PH. Ditengah jalan kami bertemu dengan Teh Ega dan Kang Ilham. Seperti biasa teman saya Habibie selalu sok kenal dengan orang lain yg bahkan tidak ia kenal. Kamipun ikut regroup dengan Teh Ega dan Kang Ilham yg tujuannya kebetulan mau ke Curug juga.
Kamipun sampai di area PH yg banyak keluarga lagi pada piknik-piknik hihi... memang PH tempat yg cocok untuk rekreasi keluarga. Kami terus melanjutkan sampai pos perijinan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Disana tidak ada penjaganya sehingga kami menunggu 10 menitan. Kami disuruh membayar Rp. 18.500 perorang. Tapi entah Teh Ega memakai jurus tawar menawar apa sehingga perorang hanya membayar Rp. 5000 tidak sampai setengahnya. Kami melanjutkan perjalanan sekitar 2,5 - 3 km dari pos perijinan menuju curug cibereum. Terdapat cabang antara jalur pendakian Gunung Gede via Selabintana (ke kiri) dengan Curug Cibereum (ke kanan). Para pendaki yg baru pertama kali via Selabintana terkadang suka salah mengambil arah jadi ke Curug cibereum.
Setengah perjalanan terlewati kami istirahat di pos pemeriksaan. Saya cuma membawa satu batang coklat Snic*ers itupun dibagi empat. Kami melanjutkan jalan dari pos pemeriksaan berbelok ke kiri. Jalan yg semakin menanjak membuat kaki terasa berat. Kami beberapa kali berpapasan dengan orang yg berjalan pulang dari Curug cibereum.
Sekitar 1jam setengah kami berjalan mengikuti jalan setapak dan jalannya masih tanjakan dan tanjakan, saat tanjakannya semakin curam Curug nya pun semakin dekat.
Akhirnya kami sampai di Curug Cibereum dengan keadaan tidak terlalu ramai.
Setelah berfoto foto ria kami istirahat sambil menikmati hangatnya segelas kopi dan popmie ditemani cilok. 1 jam lebih kami menikmati sejuknya curug cibereum. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang. Kami memutuskan untuk pulang. Hari sudah mulai gelap padahal masih siang. Kaki mulai terasa gemetar akibat dinginnya air dan rasa pegal. Saat sedang jalan pulang sambil mengobrol ngobrol tiba tiba kilat menyambar dan suara guntur geludug nya terasa dekat sekali. Kamipun mempercepat langkah agar tidak kehujanan, kalau sampe kehujanan bisa berabe urusannya.
Perjalanan kami tempuh dan tidak terasa sudah sampai dipos perijinan, istirahat sebentar dan mengambil jalan ke arah perkebunan. Kami tadinya mau pulang lewat gerbang PH dari parkiran tapi kata Teh Ega kalau lewat situ bayar lagi. Yasudah kami pun mengambil jalur menanjak ke kiri kalau dari arah pos Taman Nasional. Perkebunan teh terhampar luas lengkap dengan pohon pohon rindang mengelilingi nya menambah indah pemandangan. Tiba tiba ada sepasang suami istri menanyakan jalan kemana parkiran kepada kami, mungkin mereka tersesat sehingga mereka sudah jauh duluan terpaksa memutar arah untuk sampai ke parkiran PH. Kami sempat berfoto foto di jalan ini
Perjalanan terasa semakin jauh. Mungkin memang jauh sebenarnya, kaki gemetaran, perut pun sudah terasa lapar.
Saya salah memakai kostum, harusnya saya tidak memakai celana jeans sehingga menyulitkan untuk kaki bergerak.
Setengah jam kami berjalan setapak bebatuan akhirnya kami sampai di pertigaan yg kami ditagih preman tadi. Didapat lah angkot selabintana untuk sampai ke pusat kota. Teh Ega dan Kang ilham turun duluan dan pamit. Kami baru mengenal mereka dan mereka pun baru mengenal kami karena dipertemukan oleh alam. Mungkin kalau sifat teman saya si Habibie tidak sok kenal dgn orang mungkin kami tidak akan mengenal mereka. Sesampainya kami di Dago kami berpamitan pisah, saya dan Rivaldy membeli nasi goreng untuk mengganjal perut yg sudah berdemo massa sejak di PH. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 5 sore. Kami berpisah semua ke rumah masing2.
Pengalaman trip ini tidak akan terlupakan.
Wassalam. Wr. Wb








Tidak ada komentar:
Posting Komentar